Manggar, Kota 1001 Warung Kopi!

Manggar, Kota 1001 Warung Kopi!

423
SHARE

Matahari baru mengucap salam, namun kota ini sudah memulai denyut kehidupannya lebih awal. Sapaan sedapnya aroma kopi seolah menjadi pertanda datangnya pagi. Ya.. kopi dan masyarakat manggar memang seolah menyatu.

Ada sekitar 150 warung kopi berderet disini, tak heran jika manggar dijuluki “kota 1001 warung kopi.”

Warung kopi yang saling berdampingan menjadi pemandangan biasa, tak saling sikut karena mereka percaya setiap warung punya rezeki dan keunggulan masing-masing. Untuk menghormati satu sama lain biasanya warung yang bersebelahan memiliki jam operasional berbeda. Ada yang buka dari pagi hingga sore hari dan ada juga yang baru beroperasi dari sore hingga dini hari.

Pagi ini saya memutuskan untuk menyambangi salah satu warung kopi tertua di manggar, namanya warung kopi Atet. Berdiri sejak 1949, pengelola warung sudah memasuki generasi ketiga. Hingga kini deretan menu sederhananya tak banyak berubah.

Saya bertemu langsung pak Atet, sang pemilik warung. Oleh beliau saya diizinkan mengintip dapurnya.

Sebelum disajikan, bubuk kopi disaring sembari sesekali dituangkan air mendidih. Air hasil saringan kemudian disaring lagi dan dipindahkan ke ceret sebelum dituang ke gelas. Proses ini dilakukan berulang kali diatas kompor yang selalu menyala, alasannya untuk menjaga cita rasa dan kehangatan kopi. Kebiasaan merebus kopi konon diperkenalkan oleh para pendatang cina.

Sejak dulu Belitung, pulau dimana manggar berada dikenal sebagai penghasil timah. Karena itu di masa lalu imigran asal tionghoa banyak yang mengadu nasib dengan bekerja di perusahaan-perusahaan pengolahan timah disini. Ini pulalah yang menjadi cikal bakal kedekatan masyarakat manggar dengan budaya ngopi.

Hingga sekarang ngopi masih menjadi cara utama masyarakat manggar untuk bersosialisasi. Mereka betah berjam-jam nongkrong di warung kopi sekedar untuk mengobrol. Warung kopi pun tak jarang menjadi pembawa rezeki bagi sebagian warga.

Uniknya kota 1001 warung kopi ini tak bisa memproduksi kopi sendiri. Komposisi tanah Belitung tidak cocok untuk tanaman kopi. Kopi didatangkan ke Manggar dari luar pulau.

Selesai digiling, kopi kemudian dikemas untuk didistribusikan ke seluruh warung kopi di Manggar, hingga kemudian ia tersaji di hadapan para penikmatnya.

Buka dari pukul 4 pagi hingga 3 sore, warung kopi Atet tak pernah sepi pengunjung. Di jam-jam tertentu pelanggan bahkan harus antre untuk mendapatkan tempat duduk. Lebih dari satu kilogram kopi biasanya dihabiskan pengunjung dalam sehari.

Soal harga jangan khawatir, untuk menikmati menu kita hanya perlu merogoh kocek Rp 8 -15 ribu saja, dijamin tak membuat kantong bolong!

Reporter: Indria Lita
Visual : Luthfi Evan
Produser: Marlia Yossie
Editor : Adrian Zakhary

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY